Ketikapaderi masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk. Di saat itu, si paderi agak terbeliak ketika melihat kepada para hadirin dan berkata, 'Di tengah kita ada seorang Muslim. Aku harap dia keluar dari sini.' Pemuda Arab itu tidak bergerak dari tempatnya.
Kelemahanilmu ini adalah tidak berfungsi apabila si pemakai tidak dalam kesulitan / kepepet (seperti banyak hutang dan lain-lain) Inilah Ilmu Tabdil yang dimaksud: 1. Tulislah Wifiq Musallisul Ghozali pada secarik kain yang berwanrna putih. 2. Tulis Disekeliling Wifiq Musallisul Ghozali Ayat Tabdil berikut:
Pitunangmerupakan ilmu magis yang dimaksudkan untuk mensugesti orang lain agar tertarik untuk melihat, mendengar atau menyukai seseorang. Ilmu ini termasuk kategori ilmu muda, artinya ilmu yang dipelajari dan untuk kepentingan orang-orang muda. Pada masa lalu, pitunang lazim dipelajari orang muda untuk berbagai kepentingan.
Klikdi Sini. Masuk. atau Masuk melalui. Google Belum Memiliki Akun Daftar di Sini. Satu Akun, Untuk Semua Akses. Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) periode 2000-2002, Taufik Abdullah di Jakarta, 12 Januari 2022. Pria Minang itu kemudian menjadi Direktur Lembaga Ekonomi dan Kemasyarakatan Nasiona
Contohilmu pelet pembangkit birahi wanita bisa anda temukan dalam halaman keilmuan 30 ilmu pelet paling ampuh silahkan lihat pada bagian menu situs daftar keilmuan. Jadi jika anda suka pada mantra pelet wanita yang ampuh serta cepat kerjanya manfaatkanlah mantra pelet ini lewat cara dapat menghafal satu kali hafalan saja. Mantra pelet bahasa
Foto Dr Surya Suryadi. Ulasan buku perlakuan terhadap manula Minangkabau di zaman modern. Oleh: Suryadi, MA, PhD -- dosen Leiden University, Belanda. Inilah ulasan buku karya Alfan Miko, Sosiologi Lansia: Pergeseran Pranata Penyantunan Lansia dalam Keluarga Minangkabau yang Berubah di Sumatera Barat.
Duajurnal Fasilkom UI telah dikenal menjadi barometer kualitas publikasi penelitian nasional di bidang ilmu komputer, teknologi informasi, dan sistem informasi. Testimoni Alumni Jadi sebetulnya saya percaya di jaman-jaman kuliah itu sebetulnya pembentukan karakter, pembentukan mentalitas, dan Fasilkom UI is a very good place for me to have a
KantorLurah Limau Manis. Limau Manis adalah salah satu kelurahan di Kecamatan Pauh, Padang, Sumatra Barat, Indonesia. Kantor kelurahan ini berlokasi di Jalan Bandes Limau Manis. Kampus Universitas Andalas, Politeknik Negeri Padang, dan Kampus III Pendidikan Luar Biasa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang terletak di kelurahan ini.
Beliaudilahirkan dari orangtua Syekh Muhammad 'Isa al-Fadani dan Nyai Maimunah binti Abdullah al-Fadani, keduanya keturunan Minangkabau. Beliau menempa ilmu di antaranya: Syekh Yasin mulai belajar dengan ayahnya Syekh Muhammad Isa, kemudian dilanjutkan ke Ash-Shautiyyah guru-gurunya antara lain Syekh Muhktar Usman, Syekh Hasan Al-Masysath
PadaIslam masuk ke Nusantara, bahasa-bahasa yang ada di Nusantara sudah memiliki kemapanan dalam budaya tulis. Pada sastra Melayu dapat kita lihat seperti teks Melayu yang berasal dari abad ke-16 seperti: Hikayat Sri Rama, Sang Boma, dan cerita-cerita Panji. Ini merupakan bukti bahwa materi sastra tertulis sudah mencapai taraf yang tinggi.
PencarianAnda telah mencapai batas maksimum yang diberikan bagi pengguna tidak terdaftar dalam sehari. Anda dapat melakukan pencarian kembali sebagai pengguna tidak terdaftar esok hari. Untuk melakukan pencarian lebih lanjut dalam KBBI Daring pada hari ini, silakan masuk menggunakan akun resmi Anda yang terdaftar dalam situs KBBI Daring .
Home> LOEKELOE > SUPRANATURAL > {share} Ilmu minang masuk sini..!! Total Views pado dasarnyo ilmu basi kharsani tabagi 2 yaitu: ilmu basi kharsani nan kasa dan ilmu basi kharsani nan aluih,. (nan iko pernah ambo caliak,sekitar 3-4 tahun nan silam mamindahan makam2 urang diujuang pesisir minang/krn tanah makam kadibangun mesjid,basobok
Saya investasi di sini karena Nagita itu berdarah Padang, dan om saya Dt Ricky ini juga orang Minang. Selain itu, di Padang ini tempat wisatanya harus kita berikan sesuatu yang baru dan beda. Konsepnya lifestyle entertainment family market sesuai kearifan lokal di sini yang juga tercermin dari bangunan Marawa Beach ini.
OrangMinang Mengusasi Manajemen Modern. Sejak dulu orang Minang dimana-mana terkenal ulet dalam mengadu nasib , terkenal berjiwa dagang ( bisnis kata orang kini), sesuai prinsip ekonomi dan manajemen modern. Secuil keuletan dan kepiawaian itu terkait erat di antaranya dengan penghayatan falsafah dibalik kato-kato pusako Minang berikut ini :
AcaraFestival Kampoeng Kuliner Minangkabau yang berkolaborasi kuliner Minangkabau dengan Sudin PPKUKM Jakarta Selatan yang akan dilaksanakan di Pasaraya Blok M Jakarta Selatan. Acara Festival Kampoeng Kuliner Minangkabau ini digelar pada tanggal 10 sampai 13 Maret 2022 tepatnya di hari kamis, jumat, sabtu, minggu Pukul Wib.
kXJgd.
Kumpulan Cerita Misteri Ilmu Palasik di Minangkabau Palasik Kuduang Bagi orang Minang, kepercayaan pada Hantu Palasiak atau Palasik sama dengan kepercayaan Leak bagi masyarakat Bali, atau Kuyang bagi orang Kalimantan. Hantu Palasiak ini memang sudah lama tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Minang, terutama yang tinggal di pelosok Desa Sumatera Barat. Cerita tentang Hantu Palasiak ini sering pula dituturkan oleh salah seorang saudara ayah yang memang berasal dari Ranah Minang. Menurut saudara ayah itu, ilmu hitam Palasik merupakan warisan turun temurun masyarakat Minah yang ada sejak zaman dahulu kala. Konon, mereka yang menganut ilmu ini biasanya akan membentuk komunitas tersendiri dalam masyarakat. Mereka dulu sangat dikucilkan oleh warga di sekitarnya. Konon, di zaman dahulu kala mereka hanya bisa menikah dengan sesama keturunan Palasiak. Tapi, di zaman sekarang ini, masyarakat sudah bisa menerima keberadaan mereka. Disamping itu, keberadaan mereka juga sulit untuk dikenali. Meskipun seseorang mewarisi darah keturunan Palasik dari leluhur, namun bukan berarti secara otomatis mereka akan menjadi Hantu Palasiak. Ada ritual yang harus dilaksanakan untuk bisa menguasai ilmu hitam yang satu ini, sehingga tidak setiap turunan Palasik menjadi Palasik seperti leluhurnya. Mengapa orang Minang punya ilmu Palasik? Dari mana asal muasal ilmu ini sebenarnya. Siapa pula orang pertama yang mengajarkannya, dan di daerah mana tempat asal ilmu yang masih sangat misterius ini? Tentu saja tak mudah untuk menjawab deretan pertanyaan tersebut. Kita berharap, semoga ada saudara kita yang berasal dari Ranah Minang bisa menjelaskanya pada pembaca setia majalah kasayangan ini. Meski misteri masih menyelimutinya, yang jelas Hantu Palasiak dapat diyakini benar ada dalam kenyataan. Hal ini setidaknya seperti yang dialami sendiri oleh saudara sepupu Misteri. Sebut saja Dasri, namanya. Kisahnya terjadi 20 tahun yang lalu. Saat itu, Dasri baru duduk di kelas IV SD, usianya 10 tahun. Ketika itu musim libur panjang sekolah bertepatan dengan bulan Ramadhan. Ayah Dasri yang berasal dari Dusun Taratai, Desa Sungai Tarab, Batusangkar, berniat mengajak seluruh keluarganya pulang ke kampung halamannya yang jauh terpencil itu. Rencana ayah Dasri ini tentu saja disambut gembira, terutama oleh dasri. Apalagi, sudah lima tahun ini Dasri tidak bertemu dengan kakek dan nenek, serta saudara-suadara sepupunya yang tinggal di sana. Pada hari Minggu siang mereka berangkat dengan bus jurusan Medan-Bukittinggi. Sekitar pukul 8 pagi, bus yang ditumpangi Dasri bersama kedua orangtuanya, meninggalkan kantor pusatnya di Jl. Amaliun, Medan. Setelah melewati batas wilayah kota Medan, bus tancap gas. Semua bangku sudah terisi penuh, termasuk bangku tempel yang tersedia untuk penumpang yang menyetop di jalan. Setelah menempuh perjalanan selama 15 jam, bus tiba di terminal Aur Kuning, Bukittinggi, menjelang pukul 10 pagi berikutnya. Perjalanan menuju Batusangkar dilanjutkan dengan menumpang angkutan antar kota dalam propinsi. Angkutan desa hanya sampai di ibu kota kecamatan saja. Menuju Desa Sungai Tarap, harus ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 5 km. Ada beberapa warga satu kampung dengan ayah Dasri berjalan bersama menuju desa kelahiran mereka. Mereka terlihat bercerita akrab sekali. Memasuki desa Sungai Tarap, udara dingin pegunungan menyambut kedatangan Dasri. Sawah-sawah terbentang luas di lereng-lereng bukit. Rumah gadang berdiri megah di sepanjang jalan yang dilalui. Tiba di rumah Anggut, sebutan kakek bagi orang Minang, saudara dan sanak kadang sudah berkumpul menyambut kedatangan Dasri bersama kedua orangtuanya. Dalam tempo sekejap saja, rumah Anggut yang luas berbentuk rumah gadang penuh oleh sanak saudara dan kerabat ayah Dasri. Berita kedatangan ayah Dasri menyebar dari mulut ke mulut ke pelosok kampung. Apalagi pada malam harinya. Teman-teman ayah Dasri semasa kecil berdatangan menemuinya untuk melepas rindu dan mengenang kembali masa-masa indah dahulu. Mereka berbincang-bincang hingga larut malam. Dua hari di kampung, akhirnya tiba juga hari pekan di desa itu. Dasri diajak ayahnya melihat suasana pekan. Waktu itu turut pula bersama mereka dua orang saudara sepupu Dasri, yakni Budin dan Durin. Usia kedua anak ini sebaya dengan Dasri. Tinggi dan besar, badan juga sama. Yang membedakan warna kulit tubuh mereka. Mungkin karena tinggal di kota, kulit wajah dan tubuh Dasri terlihat putih bersih. Berbeda dengan Budin dan Durin. Kulit kedua anak ini hitam pekat karena setiap hari terjemur di atas teriknya sinar matahari. Jika tidak berada di sawah membantu orangtua merumput, pagi-pagi sekali mereka pergi mengembalakan kerbau. Dalam perjalanan ke lokasi pecan itu, ayah Dasri selalu menyapa dengan ramah setiap warga desa yang ditemui atau berpapasan di tengah jalan. Mereka menyalami ayah Dasri dengan ramah pula, seraya bertanya tentang kabar dan kapan datangnya. Sementara itu, Dasri dan dua orang saudara sepupunya saling bercerita dan bercanda dalam perjalanan itu. Meski baru dua hari bertemu, namun mereka sudah kelihatan sangat akrab. Sampai akhirnya di sebuah tikungan jalan desa, mereka melewati sebuah rumah gadang yang lumayan megah. Pemilik rumah itu memanggil ayah Dasri. “Singgahlah dulu kemari. Pasar masih sepi!” Kata si pemilik rumah, seorang kakek berusia lanjut, menawari ayah Dasri singgah di rumahnya. Karena menghormati tawaran itu, Ayah Dasri memutuskan singgah ke rumah gadang milik si kakek. Dia juga mengajak Dasri dan dua saudara sepupunya untuk singgah barang sebentar di rumah itu. Tapi, kedua saudara sepupu Dasri berkeras melarang. Budin menggelengkan wajahnya agar Dasri jangan mengikuti ayahnya. Tapi Dasri tetap mengikuti ayahnya berjalan memasuki pekarangan rumah gadang milik si kakek yang sepertinya amat ramah dan baik hati itu. Dasri dituntun ayahnya melewati jembatan terbuat dari batang bambu. Sementara. dua saudara sepupu Dasri hanya berdiri termangu di pinggir jalan. Berulangkali mereka menggelengkan wajahnya, yang memberi isyarat agar Dasri jangan ikut singgah di rumah gadang itu. Hingga wajah keduanya berubah menjadi pucat, Darsi tetap tak peduli. Kenapa Budin dan Durin melarang Dasri singgah di rumah itu? Mereka tahu persis pemilik rumah itu adalah suami isteri penganut Palasik. Rumah itu memang terlihat sangat sunyi, seperti tidak ada penghuni lain kecuali seorang kakek dan nenek yang sudah sangat renta. Diketahui, pemilik rumah itu bernama Anggut Adam. Usianya sudah mencapai 78 tahun. Sedangkan isterinya, Niek Syamsidah, usianya sekitar 70 tahun. Rambut kedua pasangan itu sudah memutih, dan kulit tubuhnya hitam keriput. Meski begitu gigi mereka masih utuh, walau nampak hitam berkarat. Dasri dan ayahnya duduk di ruang tamu, membelakangi kamar tidur si pemilik rumah. Sesaat kemudian, Niek Syamsidah menghidangkan kopi dan ketan hitam. Nenek renta inipun duduk di sisi suaminya. “Berapa anakmu sekarang?” Tanya Niek Syamsidah. “Baru satu, Niek!” Jawab ayah Dasri. “Bawalah isterimu kemari!” Anggut Adam memberi tawaran. “Nantilah di lain waktu,” jawab Ayah Dasri. Perbincangan pun berjalan dengan akrab. Sampai setelah hampir setengah jam di rumah Anggut Adam, Dasri mengajak ayahnya pergi ke pekan. Mereka pun segera berpamitan. Anggut Adam dan isterinya mencoba menahan ayah Dasri agar lebih lama lagi berada di rumahnya. Tapi Dasri terus merengek meminta ayahnya agar meninggalkan rumah Anggut Adam. Dia tak sabar ingin melihat suasana hari pekan di desa. Anggut Adam dan isterinya melepas kepergian tamunya hingga ke pekarangan rumah. “Siapa nama anakmu?” Tanya Niek Syamsiah. “Dasri!” Jawab ayah Dasri. “Kapan-kapan main-main kemari lagi. Anggap ini rumah anggutmu sendiri,” kata Anggut Adam ramah, melepas kepergian Dasri bersama ayahnya. Saat keluar dari rumah gadang milik Anggut Adam, warga desa terlihat berjalan berbondong-bondong lewat di depan rumah Anggut Adam membawa seluruh anggota keluarganya. Memang, di hari pekan itu tidak seorang pun warga desa pergi ke sawah. “Rumah anggut Adam terlihat seram ya. Tidak terurus!” Cerus Dasri dalam perjalanan. “Maklum, mereka kan tinggal berdua di rumah itu. Pergi pagi ke sawah dan pulangnya menjelang senja. Jadi mereka tidak punya waktu untuk mengurus rumah,” jawab ayah Dasri. Setelah mendapat jawaban itu, Dasri tidak lagi bertanya pada ayahnya. Apalagi setibanya di lokasi pecan suasana memang sangat ramai. Para pedagang dari kota menjajakan bermacam-macam keperluan warga desa. “Ayah, Dasri mau bermain bersama Budin dan Durin ya!” Mohon Dasri sesaat setelah melihat Budin dan Durin berkumpul bersama dengan teman-temannya. “Pergilah!” Jawab ayah Dasri memberi izin. Dasri pun segera bergabung dengan Budin dan Durin beserta teman-teman sebayanya. Waktu itulah Dasri sempat bertanya begini, “Mengapa kalian berdua tidak mau diajak singgah di rumah Anggut Adam?” “Anggut bersama isterinya itu Palasiak Kuduang,” jawab Budin. “Apa benar Palasiak itu ada?” Tanya Dasri lagi. “Rumah yang kau datangi tadi rumah Palasiak!” Jawab Durin. Sebelumnya, Dasri memang pernah mendengar cerita Hantu Palasiak dari orang-orang Minang yang tinggal di sekitar rumah orang tuanya di Medan. Menurut cerita mereka, Hantu Palasiak itu dapat melepaskan leher dari tubuhnya. Ada beberapa jenis Palasiak. Satu di antaranya adalah Palasiak Kuduang. Disebut Palasiak Kuduang, karena si pemilik ilmu hitam ini dapat memotong kepalanya kemudian memasangnya kembali. Kuduang dalam bahasa Minang artinya potong atau penggal. “Apa itu Palasiak selama ini aku belum pernah mendengarnya?” Tanya Dasri, pura-pura tida tahu. “Apa ayahmu tidak pernah bercerita?” Tanya Budin. Dasri hanya mengggelengkan kepalanya. “Palasiak adalah hantu penghisap darah anak-anak seusiamu. Dia mendatangi mangsanya tengah malam. Anak-anak yang darahnya dihisap Palasiak, wajahnya menjadi pucat dan sering sakit-sakitan,” kata Budin menerangkan. “Mana ada manusia hidup jadi hantu seperti Palasiak itu?” Protes Dasri. “Ada, contohnya Palasiak. Dia menghisap darah, terutama anak-anak yang datang dari kota,” ujar Durin menakuti Dasri. “Mengapa darah anak-anak dari kota yang dihisap Palasiak?” Tanya Dasri, penasaran. “Anak-anak dari kota darahnya manis. Sedangkan anak desa di sini darahnya pahit,” jawab Budin bercanda sembari tertawa. Kedatangan Dasri bersama ayahnya ke rumah Anggut Adam, diceritakan pula oleh Budin dan Durin kepada kedua orangtua mereka. Etek Yusminah, adik ayah Dasri terperanjat mendengar cerita dari Budin. Saat itu juga, dia segera menemui ayah Dasri. “Mengapa Uda bawa Dasri ke rumah Pak Tuo Adam?” Tanyanya. “Beliaukan masih kerabat kita!” Jawab ayah Dasri. “Ya, tapi beliau suami isteri Palasik!” Sahut Etek Yusminah. Kelihatannya dia merasa sangat cemas. “Ah, memangnya masih ada apa ilmu hitam semacam itu di zaman seperti sekarang ini?” Sanggah ayah Dasri. “Mungkin saja, Uda! Sebagaiknya segara bawa Dasri ke rumah Datuk Maruhun, untuk minta jimat penangkal padanya,” saran Etek Yusminah. Tapi saran itu tidak dihiraukan ayah Dasri. Datuk Maruhun adalah satu-satunya orang yang dapat memberikan jimat agar seorang anak tidak dihisap darahnya oleh Palasiak. Namun, ayah Dasri menyangsikan kekhawatiran Etek Yusminah. Dua hari berselang, pada malam sabtu, hujan deras turun sejak sore hari hingga malam harinya. Hingga tengah malam hujan tidak juga reda. Di luar rumah, angin bertiup kencang membut malam sangat dingin dan mencekam. Ayah Dasri malam itu tidak ada di rumah. Setelah mengerjakan shalat Jum’at, dia tidak pulang. Dia hanya berpesan pada Anggut Musa, bahwa malam ini dia akan menginap di rumah Pak Sabirin, teman sebangku ayah waktu sekolah di Makhtab Thawalib, Padangpanjang. Hingga tengah malam, hujan tinggal gerimis. Di luar angin masih juga bertiup kencang. Meskipun sudah memakai selimut tebal, tapi udara dingin masih dapat menembus pori-pori kulit. Tiba-tiba berhembus angin sangat kencang menerpa pintu kamar tidur yang tidak terkunci. Tiupan angina itu mengempaskan pintu kamar. Suaranya sangat keras sehingga Dasri terjaga dari tidur. Dari balik gorden pintu yang terbuka diterbangkan angin, Dasri melihat seraut wajah nenek tua dan kakek tua muncul. Celakanya, hanya leher dan kepalanya saja yang melayang-layang memasuki kamar. Wajah mereka terlihat samar-samar mirip Anggut Adam dan isterinya, Niek Syamsiah. “Apakah mereka ini palasiak?” Hati Dasri diliputi tanda tanya. Tubuhnya gemetaran karena takut. Kedua potongan kakek dan nenek itu terbang di atas tubuh Dasri, dan melayang-layang dengan sangat menakutkan. Dasri tidak dapat berkata apa-apa. Lidahnya seolah-olah terkunci, sehingga tidak dapat berteriak membangunkan anggutnya yang tidur pulas di sisinya. Demikian pula dengan tubuhnya. Kaku dan gemetar, seperti terikat tali sehingga tidak dapat digerakkan. Hanya kedua bola matanya mengikuti kemana kedua potongan kepala itu bergerak. Setelah berputar-putar, akhirnya kedua potongan kepala itu berhenti di ujung jempol kaki Dasri. Dengan rakus keduanya menghisap darah Dasri melalui jempol kakinya. Dasri pun meringis kesakitan. Untunglah dia tidak jatuh pingsan. Setelah puas, kedua potongan kepala itu pergi meninggalkan mangsanya, melayang-layang keluar dari dalam kamar. “Anggut, ada hantu!” Teriak Dasri. Mendadak anggutnya terjaga dari tidur pulasnya. “Ada apa?” Tanyanya. Dasri lalu menceritakan peristiwa yang barusan menimpanya. Sang Anggut harus percaya sepenuhnya, sebab di atas lantai tampak berceceran darah segar hingga ke ruang tamu. “Mereka itu Palasiak!” Gumam sang anggut dengan wajah tuanya yang menegang. Pada pagi harinya, ayah Dasri bersama anggutnya membawa Dasri ke rumah Datuk Maruhun. Pada Datuk Maruhun, Dasri menceritakan kejadian yang menimpanya tadi malam. “Anakmu di hisap Palasiak,” jelas Datuk Maruhun. “Siapa yang tega menghisap darah anakku, Datuk?” Tanya ayah Dasri. Datuk Maruhun tidak dapat menjawabnya. Beliau hanya menggelengkan kepalanya. “Bawa segera pergi anakmu dari kampung kita. Banyak Palasiak yang ingin menghisap darahnya,” saran Datuk Maruhun. Oleh Datuk Maruhun, Dasri diberi jimat yang diikatkan di pergelangan kakinya. Memang, setelah dihisap darahnya oleh palasiak, wajah Dasri pucat, dan tubunnya lemah seperti kekurangan darah. Siang itu juga, berasma ayah dan ibunya Dasri kembali pulang ke Medan. Rencana untuk berlebaran di kampung pun batal…. Lima belas tahun kemudian, Dasri baru berani datang ke kampung halaman ayahnya. Kenangan menakutkan itu memang selalu membuatnya bernyali ciut bila ingin berkunjung ke kampong tersebut. Postingan ini berdasarkan kisah nyata, adapun nama-nama pelaku dalam kisah ini sengaja disamarkan untuk menghormati privacy yang bersangkutan.
Original Posted By Angku Mudoâ–şuntuk menambah pengetahuan awak sebagai orang minang dalam perihal ilmu mudo,tantu kito harus tahu dengan hal-hal yg lazim dalam keilmuan minang tersebut,untuk kali ini kita mendapat materi "PITUNANG" uraiannya seperti berikut Saturday, 05 August 2006 Pitunang merupakan ilmu magis yang dimaksudkan untuk mensugesti orang lain agar tertarik untuk melihat, mendengar atau menyukai seseorang. Ilmu ini termasuk kategori ilmu muda, artinya ilmu yang dipelajari dan untuk kepentingan orang-orang muda. Pada masa lalu, pitunang lazim dipelajari orang muda untuk berbagai kepentingan. Orang dari profesi tertentu seperti tukang dendang, tukang saluang, atau tukang rabab, dan bidang seni pertunjukan lainnya, biasa mempelajari dan menggunakan ilmu ini untuk kepentingan professional mereka. Begitu juga tukang pedati atau sopir bis. Dengan menggunakan ilmu pitunang, mereka berharap orang mendatangi dan menyukai pertunjukan mereka. Bagi sopir, mereka berharap orang senang naik ke kendaraan yang disopirinya. Ada beragam cara dan media yang dipakai untuk memfungsikan ilmu pitunang. Bagi tukang saluang atau rebab, biasanya memanfaatkan alat musik yang mereka mainkan sebagai media untuk pitunang. Caranya adalah dengan memberikan perlakukan khusus terhadap alat musik itu. Perlakukan khusus itu dikerjakan semenjak tahap pembuatan hingga penggunaan alat musik di lapangan. Perlakuan khusus itu adalah dengan cara berikut. Pembuat akan mencari yang spesial untuk membuat saluang, bansi atau rebab yang akan dijadikan media pitunang. Bahan yang disukai adalah talang yang hanyut di sungai atau talang yang digunakan untuk menjemur kain. Untuk talang jenis terakhir ini, talang itu harus diambil dengan cara mencuri, tidak diminta. Setelah dipotong menurut ukuran tertentu, talang itu dilobangi sesuai dengan kebutuhan nada. Pembuatan lobang hanya dilakukan pada waktu khusus, yaitu pada hari ada penduduk yang meninggal dunia, khususnya jika orang itu meninggal karena melahirkan bayi. Dukun membuat lobang disertai pembacaan mantra. Untuk setiap orang yang meninggal hanya boleh dibuat satu lobang. Begitu ada lagi yang meninggal, ditambah lagi satu lobang. Demikian seterusnya hingga lobang yang dibutuhkan itu cukup. Setelah proses itu selesai, maka alat itu siap digunakan. Ada juga yang menggunakan cara yang lain. Alat musik yang akan digunakan sebagai media merupakan alat musik biasa dan telah siap pakai, tetapi kemudian diberi tambahan bahan lain untuk kepentingan pitunang. Bahan yang lazim digunakan adalah kemenyan dan kertas ceki. Caranhya, pemakai pitunang mendatangi dukun untuk minta kemenyan atau kertas ceki. Dukun kemudian membacakan mantra pada kemenyan atau kertas ceki itu dan memberikannya kepada pemesan. Kemenyan atau kartu ceki kemudian ditaruh di ujung saluang atau bansi. Sebelum alat musik dimainkan, kemenyan tadi dibakar sedikit. Jika media yang digunakan kartu ceki, maka kartu ceki itu diasapi dengan kemenyan. Akibat yang diharapkan dari penggunaan pitunang pada alat musik adalah agar pendengar merasa tertarik dan merasakan keindahan irama lagu dari alat musik yang dimainkan. Menurut beberapa orang yang pernah merasakan dampak pitunang, pendengar seakan merasa dipukau oleh musik yang dimainkan. Konon ilmu pitunang itu seakan menggoda hati dan pikiran untuk datang dan mendengarkan musik yang sedang dimainkan. Bahkan pada pitunang yang kuat daya magisnya, ia bisa membangunkan orang untuk datang ke tempat pertunjukan, meskipun tempat itu cukup jauh. Untuk pitunang yang mengandalkan pada alat musik atau alat lain sebagai media, ada pantangan tertentu yang harus dihindari. Pantangan utama adalah alat musik itu tidak boleh dilangkahi ataupun dipegang oleh wanita yang sedang haid. Tindakan melangkahi media dianggap pantangan yang cukup umum. Jika pantangan itu tidak diindahkan, maka daya magis peralatan itu akan hilang, sehingga ia tidak bisa difungsikan sebagai media ilmu pitunang. Berkait dengan pantangan kedua, wanita yang sedang haid berada dalam situasi tidak bersih, sehingga dapat menghapus daya magi pitunang yang terdapat pada alat musik itu. Larangan itu umumnya diberlakukan untuk seluruh wanita, karena akan tidak sopan untuk menanyai wanita apakah mereka sedang haid atau tidak. Pantangan lainnya yang juga umum adalah alat musik itu tidak boleh dibawa ke tempat buang air besar, seperti WC. Ada juga pitunang yang bersifat inheren dalam diri pemakainya. Untuk pitunang jenis ini, pemakainya mempelajari secara khusus ilmu ini pada seorang guru dengan persyaratan tertentu. Ia dapat menggunakan kemampuan pitunang dengan beragam cara dan memanfaatkan berbagai media. Jenis pitunang yang bersifat inheren ini bisa digunakan kapan saja. Ia bisa digunakan saat menari, menyanyi, atau bahkan sedang bersendagurau. Ada juga yang memfungsikannya melalui siulan, tepukan atau jentikan tangan. Pitunang jenis ini biasa juga disebut Pamanih , atau pemanis. Berikut ini adalah sebagian dari mantra pitunang dari wilayah Pesisir. Auzubillahi minassyaithanir rajiin Bismillahirrahmanirrahim Siriahku sarangkai kuniang Pinangku sarangkai mudo Doaku si putiah kuniang Tabikkan cahayo tampang bungo Serak sumarai ka rambuik aku Nak takajuik urang sakoto Nak tagampa urang sabalai Mancaliak aku ka lalu Barakat La illaha illallah, hu Allah. Sebagai akibat dari penggunaan ilmu pituang, maka pemakainya mudah disenangi orang lain. Akibat selanjutnya, pemakai ilmu pituang dengan mudah merayu orang lain untuk dinikahi. Tidak mengherankan jika orang-orang yang menggunakan ilmu ini memiliki banyak isteri. Pada wanita, ia jadi sering kimpoi cerai dan menikah dengan beberapa lelaki pada waktu yang berbeda. Sebagai ilmu yang lazim dipelajari dan digunakan dalam masyarakat Minangkabau, sejauh ini tidak ada informasi tentang hukuman untuk seseorang yang menggunakan ilmu pitunang untuk hal-hal yang tidak baik. Sebabnya adalah karena tidak ada bukti konkrit tentang tindakan demikian. Jika ada masalah yang ditimbulkan oleh ilmu penggunaan pitunang, maka cara yang lazim digunakan adalah melalui perundingan. Seandainya seorang wanita berhasil disugesti oleh pemakai pitunang atau pamanih, maka salah satu anggota keluarganya yang memahami dunia magis akan mencari informasi tentang orang yang melancarkan pitunang itu. Jika tak ada anggota keluarga tersebut yang memiliki kemampuan dalam bidang magis, ia bisa minta tolong kepada orang lain yang memiliki kemampuan demikian. Melalui bantuan orang yang ahli dalam bidang magis akan dapat diketahui siapa yang melancarkan pitunang. Setelah itu pihak keluarga akan mendatangi pemakai pitunang dan meminta pelaku untuk menghentikan tindakannya. Seandainya pelaku tidak mau menghentikan tindakannya dengan alasan tertentu, maka akan dicarikan jalan keluar yang bisa diterima kedua belah pihak. Jika perundingan menemui jalan buntu dan pelaku ilmu pitunang tidak mau menerima cara perundingan, maka beberapa orang ahli dalam bidang magis di kampung itu akan melakukan musyawarah untuk menentukan tindakan terhadap pelaku. Tindakan keras yang lazim dilakukan adalah para tetua kampung dengan cara menghabiskan atau melucuti kemampuan ilmu magis yang dimiliki pelaku. Tindakan ini amat ditakuti, karena dapat bermuara para kematian. Biasanya pelaku akan mematuhi perundingan yang diusulkan tetua kampung. Meskipun ilmu pitunang dapat dilakukan pada setiap saat, tidak sulit sulit untuk menghindarkan diri dari pitunang yang dilancarkan orang lain. Ilmu demikian diyakini tidak berfungsi untuk orang yang beriman kuat, berperilaku sopan dan tidak melakukan perbuatan yang salah, khususnya terhadap pemilik pitunang. Cara yang lazim juga digunakan membentengi diri dengan mengunyah atau memegang daun merunggai Moringga oleifera. Para pengguna ilmu magis takut dengan daun ini, karena dipercaya dapat menghabiskan kemampuan magis yang dimiliki. Daun lain yang berfungsi sama adalah daun lenjuang Cordyline fruticosa. Hanya di beberapa daerah pedalaman saja ilmu pemanis atau pitunang masih ada dan dipelajari orang. Generasi muda di daerah perkotaan yang telah menempuh pendidikan fomal hampir tidak ada yang mempelajari dan menggunakan ilmu pitunang. * Kritikus sastra dan dosen Fakultas Sastra Univ. Andalas, ketua Dewan Kesenian Sumatra Barat; penulis cerita anak Kalau seseorang memakai ilmu pitunang ini dan ia ingin menyembuhkan orang yang terkena pitunang ini, bagaimana caranya puh...???
- Orang Minang dikenal sebagai suku yang banyak memiliki orang-orang terpelajar. Mulai dari politisi, sastrawan, pembuat film, pemuka agama, ilmuwan, dan tokoh pendidikan, banyak yang berasal dari Minang. Sejak awal kemerdekaan Indonesia, orang terpelajar mereka sudah banyak, meski pun Universitas Andalas belum ada di zaman pertengahan abad lalu, bersama etnis lain di Indonesia, orang-orang Minang terpelajar ambil bagian dalam Proklamasi dan pendirian Republik Indonesia. Orang-orang tak akan lupa nama Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Haji Agus Salim, Mohammad Yamin, dan Tan Malaka. Mereka adalah orang-orang yang menorehkan sejarah dalam perjalanan Indonesia. Atas jasanya, mereka mendapatkan gelar Pahlawan tidak semua orang hebat dari Minang ini menjadi Pahlawan Nasional. Ada Jahja Datuk Kajo, dari generasi yang lebih tua dari Hatta. Ia tak kalah hebat dari cendekia-cendekia Minang lainnya. Sekolahnya memang tidak setinggi Hatta, tetapi sebagai anggota Volksraad Dewan Rakyat Jahja ikut melawan Belanda. Jika anggota Volksraad lain, yang kebanyakan Belanda, memakai bahasa Belanda dalam sidang Volksraad, maka Jahja memakai bahasa Melayu. Begitu tertulis dalam Kelah Sang Demang, Jahja Datoek Kajo, Pidato Otokritik di Volksraad 1927 – 1939 2008.Masuk Pergerakan NasionalPada zaman kolonial Hindia Belanda, belum ada sekolah tinggi hadir di Minang. Universitas Andalas baru ada setelah Indonesia merdeka. Bagi mereka yang sudah lulus SD elit macam HIS atau ELS, bisa meneruskan ke sekolah menengah kolonial. Jika ingin jadi guru mereka bisa pergi ke Fort de Kock Bukittinggi, di mana Kweekschool sudah ada sejak 1856. Jika ingin berijazah SMP saja, di kota Padang terdapat MULO. Kebanyakan kaum terpelajar Padang, jika sudah menempuh sekolah-sekolah itu akan merantau dan belajar di sekolah yang lebih tinggi lagi di Pulau terpelajar yang lebih senior dari Hatta, belum banyak yang sekolah tinggi. Mereka kebanyakan menjadi pejabat di daerah Sumatera. Tak hanya Jahja Datuk Kajo, yang sebelum jadi anggota Volksraad, dia pernah jadi Demang atau Camat. Ada lagi Mohammad Rasad gelar Maharaja Sutan, yang menjadi jaksa di Medan. Mereka sama-sama berasal dari Koto Gadang orang berada, mereka bisa menyekolahkan anak-anak mereka hingga berijazah setara SMA. Jahja punya anak laki-laki bernama Daan Jahja, yang terakhir belajar di Sekolah Kedokteran zaman Jepang Ika Dai Gakku di Jakarta. Namun, ia tidak lulus karena Perang. Daan kemudian jadi perwira Tentara Nasional Indonesia TNI. Di usia yang masih sangat muda, Daan Jahja pernah menjadi Gubernur Militer di Rasad juga menyekolahkan anak laki-lakinya hingga SMA. Salah satunya Sutan Syahrir yang menjadi Perdana Menteri pertama Republik Indonesia. Pendidikan kurang dianggap penting bagi anak perempuannya. Salah seorang anak Mohammad Rasad yang tak disekolahkan. Namun, anak ini bisa membaca, dan belakangan bisa menulis. Anak ini belakangan menjadi tokoh perempuan Indonesia yang terlibat juga dalam pergerakan nasional, Rohana Koedoes. Dia saudara seayah Sutan Syahrir, tapi lain anak-ananya yang menjadi tokoh pergerakan seperti Syahrir dan Rohana, Rasad juga punya cucu yang dikenal sebagai sosialis gerakan bawah tanah anti Jepang, yakni Djohan Sjahruzah. Djohan juga berijazah SMA. Dia pernah sebentar kuliah di Recht Hoge School sekolah tinggi hukum Jakarta. Belakangan lebih memilih masuk pergerakan. Untuk menyambung hidup, Djohan pernah bekerja juga di perusahaan minyak Belanda, tapi tidak lama karena keterlibatan di serikat buruh. Djohan menikahi putri Haji Agus soal Haji Agus Salim, yang dikenal sebagai tokoh Sarekat Islam dan Menteri Luar Negeri di awal-awal kemerdekaan, tentu menarik. Dia lulusan terbaik HBS-KW III Jakarta, yang gedungnya menjadi bagian dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia PNRI. Agus Salim adalah anak Mohammad Salim, seorang jaksa. Pernah menjadi Jaksa Kepala di Riau. Dengan kedudukan ayahnya Salim bisa bersekolah di sekolah lulusan terbaik HBS, Salim sebenarnya bisa kuliah di Belanda jika mau menerima beasiswa yang dihibahkan Kartini. Namun, dia memilih bekerja. Setelah di perusahaan swasta, dia bekerja di Konsulat Belanda di Jeddah, Arab Saudi. Kembali ke Indonesia dia masuk Sarekat Islam. Meski dia lulusan sekolah Belanda, Salim justru tidak menyekolahkan anaknya ke sekolah-sekolah Belanda, melainkan belajar di rumah. Meski tak sekolah Belanda, anak-anaknya bisa berbahasa Belanda bahkan Inggris. Anaknya bahkan terlibat pergerakan nasional sejak muda. Dolly, yang masih 15 tahun, sudah memainkan piano membawakan Indonesia Raya ketika Kongres Pemuda II. Selain anak-anak Agus Salim, ada adiknya yang juga ikut pergerakan nasional. Abdul Chalid Salim, begitu nama sang adik, terlibat pemberontakan komunis 1926-1927 hingga harus dibuang ke Digoel. Sebelum dibuang, dia adalah seorang wartawan. Setelah bebas, adiknya menulis buku Lima Belas Tahun Minang yang bergabung dengan Sarekat Islam selain Salim tentu saja Abdul Muis. Dia anak seorang demang yang pernah sebentar belajar di sekolah kedokteran zaman Belanda STOVIA. Muis yang tak lulus sekolah dokter itu kemudian menjadi anggota Volksraad. Selain sebagai tokoh pergerakan, dia juga dikenal sebagai novelis. Orang Minang lain yang tak lulus dari STOVIA adalah Djamaludin Adinegoro, masih saudara seayah dari Mohammad Yamin tapi beda ibu. Dia juga jago menulis. Namanya diabadikan sebagai penghargaan bidang terpelajar lain tentu saja Ibrahim, putra HM Rasad, seorang pegawai pertanian. Ibrahim siswa cerdas di sekolahnya, Kweekschool Bukittinggi. Lulus dari kweekschool dia dihormati dan diberi gelar Datuk Tan Malaka. Padahal, usianya baru 16 tahun. Tan Malaka lalu diberi pinjaman uang untuk sekolah lagi di Belanda. Dari Belanda, Tan yang kembali ke Indonesia dan sempat mengajar di sekolah milik Senembah Maskapai, akhirnya bergabung dengan Partai Komunis Indonesia PKI. Meski dia PKI, Tan adalah sosok yang menekankan perlunya persekutuan dengan orang-orang Islam dalam melawan Belanda. Sebagai komunis, Tan bukan orang yang menurut pada Stalin. Hingga dia dimusuhi. Tan dikenal dengan karya intelektual merupakan anak-anak pegawai. Hatta adalah salah satu pengecualian. Ia berasal dari keluarga pedagang. Setelah lulus MULO, Hatta belajar di sekolah dagang di Jakarta, sebelum akhirnya belajar di sekolah tinggi dagang Rotterdam. Setelah bekerja di perusahaan pamannya, Mak Etek, Hatta masuk pergerakan nasional. Bersama Syahrir, Hatta juga ikut dibuang ke Boven Digoel, karena dianggap berbahaya bagi pemerintah Hatta dan Syahrir, banyak juga orang-orang Minang yang dibuang ke Digoel. Di antara mereka sudah bergelar haji dan memperdalam ilmu agama Islam. Mereka adalah Soeleiman gelar Haji Soeleiman; Sinoerdin Gelar Haji Noerdin; Iljas jacob; Djamaludin Taib; Mochtar Lutfie, dan tentu saja Chalid Juga SastrawanSebagai novelis, Abdul Muis pernah mengeluarkan Pertemuan Jodoh 1933, Surapati 1950, Robert Anak Surapati 1953 dan yang paling sohor tentunya Salah Asuhan 1928. Karya Salah Asuhan satu zaman dengan Siti Nurbaya yang ditulis oleh Marah Rusli. Jika Abdul Muis adalah politisi, maka Marah Rusli sehari-hari bekerja sebagai dokter hewan yang pernah ditugaskan juga ke Nusa Tenggara. Selain Siti Nurbaya, Marah Rusli juga menulis La Hami dan Memang Jodoh. Dalam periode yang sama dengan Siti Nurbaya, karya tulis Tulis Sutan Sati yang berjudul Sengsara Membawa Nikmat juga lahir,Buya Hamka yang dikenal tokoh Islam dan politisi di masa orde lama, juga menelurkan beberapa karya penting dalam sejarah sastra Indonesia seperti Di bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal van der Wijk. Dua karya Hamka itu sudah pernah pergerakan lain yang juga ikut menulis adalah Roestam Effendi. Dia adik kelas jauh Tan Malaka di kweekschool Bukittinggi. Karya-karya Roestam antara lain drama Bebasari dan puisi-puisi yang dibukukan dalam Percikan Renungan. Dari sekian banyak tokoh pergerakan Indonesia, hanya Roestam yang pernah menjadi anggota parlemen Belanda. Dia menjadi wakil Partai Komunis Belanda. Bakat berpolitiknya menurun pada cucunya, Dede Yusuf Effendi yang pernah jadi Wakil Gubernur Jawa antara pemuda keturunan Minang, dari generasi di bawah Roestam tentu saja ada Idrus yang menulis Dari Ave Maria Jalan Lain Ke Roma, Rivai Avin dengan Tiga Menguak Takdir, Ali Akbar Navis dengan Robohnya Surau Kami. Selain menulis novel-novel, tentu jika bicara puisi orang-orang Indonesia haram hukumnya melupakan Chairil Anwar yang dianggap pendobrak dunia puisi Indonesia. Para penulis Minang bisa dibilang cukup mendominasi dunia sastra Indonesia. Mereka juga orang-orang yang tak kalah terpelajar dari Syahrir dan lapangan keagamaan, setidaknya, di akhir abad XIX, pernah ada seorang Minangkabau yang menjadi tuan guru ilmu agama di Mekkah, namanya adalah Syech Achmad Khatib. Orang-orang dari belahan dunia yang belajar ilmu agama di Mekkah pernah belajar darinya. Termasuk orang-orang Indonesia yang naik haji dan belajar di sana. Ayah Hamka sendiri adalah tuan guru di Sumatera Barat. Ayahnya termasuk tokoh terpandang yang ikut mendirikan tempat belajar agama Islam yang dianggap modern bernama Sumatra Thawalib. Tentu saja di generasi berikutnya orang-orang terpelajar itu bertambah jumlahnya. Dari semua tokoh di atas, hampir semuanya menjadi besar namanya setelah merantau untuk belajar dan berkarya. Mereka lahir di Minang, tapi tidak besar di Tanah Minang. - Sosial Budaya Reporter Petrik MatanasiPenulis Petrik MatanasiEditor Nurul Qomariyah Pramisti
ilmu minang masuk sini